Regret

by K A L L E N
Let's Share, nyaan! (。•ㅅ•。) :
Regret by Adelia Farhana

Hujan deras yang mengguyur kota itu seakan ikut berduka cita atas kematian seseorang. Gadis remaja yang hanya menatap langit gelap itu termenung sambil memeluk boneka beruang kesukaannya dengan tatapan kosong. Petir yang menyambar-nyambar, membuat jenazah orang yang meninggal itu belum di makamkan. Gadis itu tetap menatap kosong langit gelap yang mengguyur kota dengan hujan deras ketika seorang lelaki tua masuk ke kamarnya.
“Jangan bersedih terus, Rei. Kalau kamu terus bersedih, mama-mu juga akan sedih.” Ucap lelaki tua yang ternyata adalah seorang ayah gadis itu. Tapi, gadis itu hanya terdiam.
Gadis itu sedikit membuka mulutnya, lalu berkata, “Aku benci orang itu, orang yang menabrak lari mama. Seenaknya saja dia menabrak tanpa tanggung jawab. Aku benar-benar benci.” Dengan tatapan tajam, ia berkata seperti itu. Mata ayahnya terbuka lebar. Ia sangat kaget ketika anaknya berkata seperti itu. “Aku lihat betul orang yang menabrak mama. Kaca mobil yang terpecah belah, mengenai wajah mama; bahkan tertancap di dada mama. Darah yang berceceran mengenai wajahku. Dan entah kenapa aku yang duduk di belakang tidak apa-apa, hanya terkena goresan-goresan dari kaca mobil. Aku---“
“Sudah cukup, Reika!” Ayahnya memotong ucapan gadis tadi yang bernama Reika, tak kuasa membendung tangis di matanya, lalu memeluk Reika. “Sudah cukup penyesalannya. Semua sudah terlanjur terjadi, Rei. Ini sebuah takdir untuk kita dan sebuah musibah. Mungkin mama disana sudah tenang, jadi jangan disesali. Semua sudah terlanjur …” Lanjut ayahnya.
            Hujan yang tak kunjung henti tetap di terobos orang-orang yang mengantar jenazah wanita yang disebut-sebut sebagai mama Reika. Suasana pemakaman yang sedih itu tetap terasa. Hingga akhirnya, Reika meneteskan air matanya bahkan tak akan bias terhenti untuk menghentikan tangisannya.
            Esoknya di sekolah, banyak yang turut berduka cita kepada Reika. Tapi, Reika tidak peduli, bahkan tidak mau peduli, toh walaupun mereka semua berduka cita atas kematian mamanya, mamanya tak akan kembali lagi. Lagi pula, sejak kapan mereka mengkhawatirkan keadaan Reika? Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri. Awalnya Reika ingin berteman dengan mereka semua, ternyata ia di khianati secara tak wajar. Reika sudah terlanjur sakit hati dan tak percaya dengan mereka, Ia hanya percaya kepada Momo; teman sejak ia masih taman kanak-kanak. Hingga pada suatu ketika ada seorang lelaki sebaya Reika menghampirinya.
“Reika, aku turut berduka cita atas meninggalnya ibu---“
“Apa pedulimu terhadapku?! Apa pedulimu terhadap keluargaku?!! Lebih baik pikirkan keadaanmu! Aku tak peduli!” Bentak Reika terhadap lelaki yang bernama Kanata. Lalu Reika pun pergi meninggalkan Kanata dan Momo. Orang-orang disekeliling mereka berdua pun hanya menatap kasihan. Mereka tahu sifat dan sikap kerasnya Reika. Mereka hanya bisa mengasihani Kanata yang dibentak Reika.
“Maafkan ucapan Reika, Kanata. Mungkin dia butuh waktu untuk meredakan semua emosinya.” Ucap Momo seraya pergi meninggalkan Kanata dan berlari menghampiri Reika. Asal tahu saja, Kanata adalah seorang lelaki yang care terhadap Reika. Mungkin, hanya Kanata saja, lelaki yang ia percaya. Dan ada bumbu-bumbu cinta diantara mereka berdua. Tapi, Kanata kaget ketika ia di bentak seperti itu. Ia hanya menghela napasnya kencang dan duduk di bangku dekat depan kelas 2-B.
“Ya, mungkin dia butuh waktu untuk melupakan kejadian kemarin.” Gumam Kanata.
            Hari-hari Reika dihiasi dengan dendamnya terhadap lelaki yang menabrak lari mamanya. Ia masih tak rela mamanya mati seperti itu, sangat amat tak rela. Hingga pada suatu hari, Reika berkunjung ke rumah Momo.
“Momo, bolehkah aku mengambil minum? Aku haus sekali.” Kata Reika dengan ramah.
Lalu Momo menjawab, “Tentu. Kamu boleh ambil sendiri di lemari pendingin.”
            Reika menyelusuri rumah Momo, mencari keberadaan lemari es itu. Ia jarang sekali main ke rumah Momo, entah kenapa. Hanya hitungan jari ia berkunjung ke rumah Momo dari taman kanak-kanak sampai ia sekarang sudah SMA.
            Tiba-tiba, Reika di kejutkan oleh seorang lelaki paruh baya, yang sepertinya ia kenal. Ia menyipitkan matanya dan mendekatinya perlahan. “Kreek.” Bunyi pintu yang terbuka dimana lelaki paruh baya itu berada dan ia sedang membuka pintu itu. Matanya terbuka lebar, begitu juga Reika.
“Kamu!!” Teriak Reika kencang-kencang. Reika mengambil pisau yang berada di dekatnya, lalu berkata lagi, “Kamu yang telah membunuh mamaku!! Kamu …KAMU!!!” Reika sudah tak terkendali, bahkan sudah tak ada kesadaran lagi. Matanya juga sudah tak peduli lagi dengan keadaan sekitar, sudah benar-benar tak sadar. Ia langsung saja menusukkan pisau ke perut seseorang. Ia tak peduli lagi menusukkan kepada siapa. Ketika matanya perlahan dibuka, yang ia lihat adalah …darah yang bercucuran dan terdengar desahan kesakitan dari seorang gadis. Mata Reika terbelalak ketika yang ia tujukan pisau itu adalah sahabatnya sendiri, Momo. Ternyata Momo melindungi lelaki paruh baya itu, yang di duga adalah ayah kandung dari Momo. Perlu di ketahui, ayah dan ibu Momo bercerai dan Momo ikut ayahnya. Ibu Momo menikah lagi dan terkadang Momo ke rumah ibunya. Maka dari itu, Momo selalu menolak jika Reika ingin kerumahnya. Reika baru kali ini melihat jelas ayah kandung Momo, padahal waktu itu ia pernah melihatnya di sebuah poto. Pantas saja Reika seolah kenal dengan orang itu.
            Darah yang terus bercucuran dari perut Momo terus mengalir. Reika tak tahu harus berbuat apa.
“Sekarang kamu tahu kan siapa yang telah membunuh ibumu? Aku sengaja merahasiakan ini darimu agar kita tetap bisa berteman. Mungkin kematianku bisa membalas dendammu, Rei. Selamat ting……” Senyuman manis dari Momo terbentuk di bibirnya. Ucapan pelan Momo yang tak ‘kan Reika lupa. Perlahan Momo menghembuskan napas kencangnya, detakkan jantung yang semakin melemah lalu …napasnya terhenti dengan senyuman manis dibibirnya.
            Mata Reika terbelalak dan terdiam. Ia telah membunuh teman terbaiknya. Ia tak bisa berpikir lagi. Dan akhirnya, ia menangis sekeras-kerasnya yang ia bisa dan juga di selubungi oleh hujan yang sangat amat deras.

--Tamat--

♫ Thanks for Reading, da. Ctrl + C = COPY! ♫

2 Spam(s) on "Regret"

kokacream on 18 Desember 2011 10.25 mengatakan...

AAA.. ceritanya keren!! sad ending!! ><

Mrs. Pumpkin on 19 Desember 2011 13.18 mengatakan...

@kokacream ga terlalu sad ending kok ._. hehe makasih banyaaakk ^^

Posting Komentar

Rules :
✱ Menggunakan bahasa yang baik, jelas dan benar
✱ Tidak spam
✱ Tidak menyinggung perasaan author maupun orang lain

Regards,
Kallen Beilschmidt ♫

 
H o m e S t u f f s K a l l e n T o m o d a c h i T h a n k s T o F o l l o w +
K a l l e n B e i l s c h m i d t Ⓒ 2 0 1 6