Only Learned The Bad Things

by K A L L E N
Let's Share, nyaan! (。•ㅅ•。) :
Author : Kallen Beilschmidt @adellafar
Genre  : Romance, Drama, Songfic, Out Of Character
Cast    : Hana Fujita (OC), Sandeul
Other cast : Baro, Jinyoung, Shinwoo, Gongchan, Ai Fujita (OC), Park Dae Yoora (OC), Hyuna (OC)
Rating  : K+ / T
Length : One Shoot
Note    : Fic pertama yang bertemakan Korea. Biasanya aku buat fic bertemakan anime. Jadinya maaf kalau ceritanya datar dan kepanjangangan bahkan ada typo nya. Maaf. Mungkin lain kali aku akan perbaiki ^^* Ngomong ngomong, yang jadi model di posternya itu Dearest Saya --Cosplayer yang sudah meninggal tanggal 15 Maret 2011 pada sebuah kecelakaan-- dan tentu saja Lee Sandeul! Ah ya, special thanks to my friends, Ai, Giany dan Mia. THANK YOOOUUU!! Hope you enjoy with my fic!~ taa daa! xD


Only Learned The Bad Things
K a l l e n  B e i l s c h m i d t




"Kyaaaaaaa!!! Mereka datang! Mereka baru saja datang!" baru saja ia datang ke sekolahnya, teman temannya meributkan masalah yang menurutnya kurang penting. Tentu saja ia beranggapan seperti itu karena ia tak begitu tahu dengan idol baru yang langsung melejit namanya. B1A4. 5 orang lelaki tampan yang bersekolah di sekolahnya bisa menjadi terkenal karena menurut mereka lagu mereka berpotensi. Ia yang hanya murid pindahan biasa tak tahu kenapa bisa begitu.
"Hana, apa kamu tidak mengerti maksudku, err maksudku B1A4!! Mereka sudah datang! Lihatlah, Baro kelihatan tampan sekali! Oh ya ampun, seandainya aku bisa mendekati mereka ya Tuhan!" Ucap salah satu teman barunya. Ia hanya meringis mendengar ucapan teman barunya itu.
Hari ini adalah hari pertama kali ia bersekolah SMA di Korea. Sebelumnya ia tinggal di Jepang karena pekerjaan orang tuanya. Lalu di pindah lagi karena pekerjaan orang tuanya ke Korea. Sebelum ke Korea, Hana sudah belajar keras untuk belajar Bahasa Korea --yang lebih menyulitkan dari Bahasa Jepang-- dan pada akhirnya ia berhasil dan sekarang Bahasa Korea nya sudah fasih.

"Kali ini kalian kedatangan murid pindahan yang berasal dari Jepang." Ucap wali kelas. Hana hanya terdiam; karena suasana sekolah di Jepang dan Korea tidak jauh bereda. Ia memperkenalkan dirinya dan langung duduk disamping Lee Sandeul –karena suruhan sang wali kelas--. ...Ya Tuhan! Lee Sandeul! Hana duduk di samping idol yang disebut sebut para cewek tadi pagi. Ia menghela napasnya. Bisa bisa dia terkena amarahnya para cewek di kelas. Tapi Hana tak begitu peduli. Ia hanya ingin merubah dirinya, tak seperti dulu.
"Jadi… Namamu Hana? Nama yang bagus." Seseorang membuka pembicaraan disaat hening heningnya. Sandeul.
"Iya... Kau.. Sandeul dari B1A4?" Tanya Hana ragu. Sebetulnya walaupun Hana tak menanyakan hal itu, ia juga sudah tahu jawabannya. Ini hanyalah basa basi.
Orang yang diajak bicara mengulaskan senyum manisnya lalu berkata, "Kau tau B1A4?"
"Aku hanya sekedar tahu. Di negaraku banyak yang mengidolakan B1A4; bahkan kakakku juga, padahal aku sediri tak tahu lagunya yang mana."
Sandeul tertawa kecil. "Sepertinya aku harus memberikan album kami kepadamu." Ucapnya lalu menghela napas dan melanjutkan "Ngomong ngomong, mohon bantuannya ya."
“Hn? Maksudmu?” Hana sedikit memiringkan kepalanya. Ia bingung apa maksud ucapan Sandeul.
“Mohon bantuannya karena kau telah mau duduk denganku.” Ucap Sandeul tenang.
“Seharusnya aku yang bilang begitu. Aku ‘kan anak baru.”

Selama pelajaran, baik Hana ataupun Sandeul tak ada yang memulai pembicaraan. Hana menghela napasnya lalu menerawang sekitar kelasnya. Ada yang membaca komik, ada yang serius belajar dan mendengarkan guru berbicara, ada yang asik mengobrol dengan bisik bisik dan ada juga yang asik tidur. Ia tak menyangka kalau bakal begini di Korea. Lalu ia menoleh kearah kanan, tempat duduk Sandeul. Mata Hana terbuka lebar ketika melihat pemandangan ini. Sandeul sedang memperhatikan guru menulis di papan tulis tapi ia tetap terdiam. Menyipitkan matanya. Membuka sedikit mulutnya. Berhenti menulis dengan tangan memegang pulpen. Hana memiringkan kepalanya, heran.
"E--etto. Sandeul. Lee Sandeul?"
"A--apa?!" Sontak Sandeul setengah teriak; kaget, matanya terbelalak dan menoleh kearah Hana. Ia benar benar kaget. "A--ada apa?" Ucapnya sekali lagi meyakinkan Hana kalau ia tak apa apa.
"Kau tak apa apa kan?" Ucap Hana khawatir.
"M—maksudmu? Aku tak apa kok." Ucap Sandeul masih setengah sadar dalam kepanikan sesaat.
"Tapi aku lihat kau menyipitkan matamu, gerakanmu terhenti sesaat dan kamu bergumam sendiri. Aku bingung. apakah kamu---“
"Aku punya cacat mata jarak jauh. Aku tidak bisa melihat jarak jauh." Ucap Sandeul; memotong omongan Hana. Ia menggaruk garukkan kepalanya.
"Kenapa kamu tak duduk didepan saja?"
"Tidak.” Jawabnya tegas, lalu melanjutkan, “Aku biasanya memakai lensa kontak atau kacamata. Aku sedang malas memakai lensa kontak dan ku kira aku membawa kacamataku tapi ternyata.. tidak."
Hana menghela napasnya sesaat dan tersenyum, "Kalau begitu, aku akan meminjamkan catatanku kepadamu."

***

"Orang Jepang yang bernama Hana itu orangnya baik loh. Baro, seandainya kamu sekelas denganku, kamu pasti suka dengannya." Ucap Sandeul sambil ketawa ketiwi.
"Hah? Apa maksudmu?" Tanya Baro sambil memakan pisang. Ia belum bisa mencerna ucapan temannya.
Sandeul memanyunkan bibirnya tidak jelas lalu mengadu ke Jinyoung, "Hyung, dia jahat! Dia tak mau mendengarkan ucapanku!"
"Daripada kau ngomongin yang tidak jelas, lebih baik kau latihan vokal sana." Ucap Shinwoo dingin. Tidak biasanya dia begitu. Mungkin lagi... bete.
Sandeul makin memanyunkan bibirnya. "Ah Hyung makin bikin bete nih." Sandeul masuk keruang latihan, memainkan keyboard lalu menyanyikan lagu Old Song yang dinyanyikan oleh Kim Dong Ryul. Tapi, sebelum ia menyanyikan lagu kesukaannya, ia mengangkat telepon dari seseorang.
"Kenapa tuh anak? Tumben.." Baro pun baru berbicara dengan benar.

***

Keesokan harinya di kelas.
"Pagi!" Sandeul yang baru datang dikagetkan dengan suara Hana yang sudah datang sejak tadi. Dia duduk dibelakang; duduk bersama Sandeul.
Sandeul mengulaskan senyum tipis tapi sangat manis, "Pagi juga."
"Kamu sudah mengerjakan PR?" Tanya Hana polos. Ia melihat ekspresi kebingungan Sandeul. Ia mengerjapkan matanya lalu matanya terbelalak.
"HAH?! Aku lupa banget!" Teriak Sandeul. Suara nyaringnya hampir terdengar ke kelas sebelah; kelasnya Baro. "Haduh, bagaimana nih!? Gara gara kemarin latihan, aku sampai lupa kalau ada PR! Gimana nih Hana?! GIMANA?!!" Lanjutnya sambil menggoncang goncangkan badan Hana.
Hana tertawa kecil. "Mau lihat punyaku?"
Sandeul mengerjapkan matanya sekali lagi. Tanpa sadar, ia telah membuka mulutnya lagi sambil tercengang. "Bo--boleh kah?" Hana mengangguk dan Sandeul pun sontak tersenyum kesenangan.
Jeongmal gamsahabnida, Hana-ya!"

"Sepertinya akhir akhir ini si anak baru dan Sandeul sedang dekat ya?" Ucap Baro, membuka pembicaraan saat para member B1A4 sedang asik asiknya mengintip di jendela kelas Sandeul.
“Baro-ssi cemburu kah? Padahal orang yang bernama Yoon Gia lebih cantik dibanding Hana loh! Yoon Gia loh! Yoon Gia! Wanita cantik yang berkenalan denganmu sewaktu di taman! Jangan lupa i---#@*%^&%?!” Baro menutup mulut Gongchan yang sedaritadi hanya berkicau saja.
"DOR! Hahahaha!!" Kejut Sandeul. Member B1A4 sama sekali tidak tahu kalau Sandeul telah keluar dari kelasnya. Sandeul melihat ekspresi teman temannya; Baro kaget histeris, Gongchan terbelalak, Jinyoung tercengang dan Shinwoo biasa saja; hanya kaget sesaat. Sandeul ketawa ketiwi sendiri melihat teman temannya begitu.
"Hooaahh bubar bubar. Ada orangnya." Ucap Baro sok cuek. Sandeul tercengang tetapi masih tertawa.
"Kalian kenapa coba? Hahaha."

"Shinwoo, kenal orang yang namanya Ai, tidak?" Tanya Jinyoung sambil memiringkan kepalanya; menunggu jawaban Shinwoo.
"Anak baru itu?" Jawab Shinwoo agak cuek sambil membaca majalah.
Jinyoung sedikit mengangguk, "Ya. Ternyata dia kakak dari anak baru di kelas 2 yang sekelas dengan Sandeul; Hana."
Mata Shinwoo terbelalak. Ia hampir tidak bisa bernapas mendengar ucapan temannya tadi. "Siapa katamu? Kakaknya Hana?!"
"Ya.. Aku baru tau dari kakaknya langsung. Mereka pindah ke Korea karena pekerjaan orang tuanya."
"Oh...?" Tanpa menunggu jawaban dari Shinwoo, Jinyoung sontak berdiri lalu berjalan ke arah dapur.
"Kurasa sekarang waktunya untuk membuat makan malam. Ayo Shinwoo, bantu aku menyiapkannya!"
Shinwoo menaikkan alisnya lalu mengikuti apa yang dikatakan Jinyoung.

Mereka makan dengan tenang. Alunan bunyi piring mengiring mereka makan. Terkadang mereka bercanda, saling menyuapi satu sama lain dan terkadang mereka membuka pembicaraan. Disini sangat amat nyaman. Namun, bunyi telepon yang nyaring itu merusak suasana nyaman tadi. Mereka semua menghela napasnya lalu melanjutkan makannya.
"Ha..lo?"
"Ada pekerjaan untuk kalian!!"
Si penjawab telepon pun tersedak. Rasanya gendang telinganya itu serasa mau pecah mendengar suara dari telepon. "Bisakah kau tenang sedikit untuk memberi tahu itu kepada kami? Biasa saja lah, Noona."
"Hei hei Jinyoung, ‘kan sudah lama kalian tidak diberi job." Ucap di seberang telepon. “Ini waktunya kalian tampil lagi!"
"Walau aku tidak diberi job, aku harus serius dengan ujianku nanti, agar aku lulus. Hahaha." Ucap si penjawab telepon sambil tertawa kecil.
"Aku sudah mengabari kepala sekolah, besok kalian tidak masuk."
"Hei hei Noona, aku kan belum bilang aku setuju atau tidak."
"Kalian harus mengambil pekerjaan ini. Aku tidak mau tahu. Besok kalian harus datang ke pemotretan di xxx jam 9. Tidak ada yang boleh telat. Selamat malam."
"Hei Noona! Tung---"
tuut tuut tuut
"Hyuna-noona, kenapa kamu selalu menentukan sendiri sesuka hatimu?"

***

"Kukuruyuuuuuuuuk" sudah hampir 3 jam kokokan ayam berbunyi. Bahkan alarm pun sudah berkali kali berbunyi. Waktu sudah menunjukkan angka 8, tapi mereka tetap diam; belum terbangun dari mimpi.
      OK, girl neoegeman yes man mwodeunji da haejulke
      OK, girl ijebuteo nikkeoya I love you~
Shinwoo membuka sedikit matanya lalu mengerjap ngerjap. Ia menatap langit langit tempat tidur lalu melihat handphonenya.
"HAH?! SUDAH JAM SEGINI!!" Teriak Shinwoo. Tapi member lainnya sama sekali tidak mendengar teriakkan Shinwoo. Mereka tertidur lelap seakan sangat lelah. Sontak ia bergegas lalu membangunkan member lainnya. "Hei kalian bangun! Kalian tidak mau kita terlambat lalu gaji kita di potong kan?"
Perlahan para menber B1A4 mengerjap lalu bangun. Sekilas Jinyoung melihat jam lalu, "SUDAH JAM SEGINI?! Kenapa kau tidak membangunkanku?!" Tanya Jinyoung ke Shinwoo.
"Aku saja baru bangun. Cepat rapi rapi! Kita bisa diomeli Hyuna-noona!"

"Modelnya belum datang juga?" Ucap sang fotografer cuek sambil melihat jam berkali kali. Ia sudah bolos sekolah; izin maksudnya. "Sekarang sudah jam 9.20. Kita telah menghabiskan waktu 20 menit dengan sia sia." Lanjutnya.
"Maafkan kami, tunggulah sebentar. Mungkin sebentar lagi--- ah!! Itu mereka sudah datang!" Sang manajer menunjuk nunjuk kearah pintu. Matanya menangkap beberapa orang yang baru datang membungkuk 90° dan samar samar mendengar mereka berucap 'mianhaeyo' dan 'annyeong' kepada orang orang yang lewat. Sang fotografer terdiam.
Salah satu dari beberapa orang itu terbelalak dan tercengang. "Hana?!"
Orang yang dipanggil Hana itu sontak menoleh kearah suara lalu berucap, "Lee Sandeul dan teman temannya, kalian telat."
Orang yang dipanggil Sandeul masih tetap tercengang. "Kau.. Sedang apa disini?!"
"Aku? Aku sedang bekerja. Aku yang memotret kalian. Aku fotografer."
Sandeul masih tercengang dan terdiam. Ia masih tidak percaya.
"Annyeong. Namaku Hana. Aku fotografer dan aku yang memotret kalian. Pangap seumnida." Ucap Hana kebeberapa orang yang diketahui mereka adalah B1A4. Lalu mereka sama sama membungkukkan badan.
"Kau, Hana yang sekelas dengan Sandeul kah?" Tanya Baro hati hati. Hana mengangguk lalu tersenyum. Baro tidak berkomentar lagi seakan akan sudah tahu.
"Kenapa bisa, Hana? Kenapa bisa kau yang menjadi fotografer kami?" Ucap Sandeul sekali lagi seakan ingin memastikan sesuatu.
Hana tertawa kecil lalu mengatakan, "Aku sudah lama jadi fotografer di Jepang. Karena menurut orang orang aku di Jepang lumayan profesional, maka disini aku di kontrak. Dan tenang saja, pasti kalian tidak akan kecewa dengan potretan ku.” Kata Hana membanggakan diri. Memang, Hana benar benar bangga dengan hal itu.
“Lalu sekolahmu bagaimana?” Sandeul; memastikan sesuatu yang sudah jelas jawabannya.
Hana mengerutkan keningnya lalu berkata, “Hei Lee Jung Hwan, kau sendiri kenapa memboloskan diri? Kalau kau saja boleh, kenapa aku tidak?”
Sesudah pernyataan itu terucap dibibir Hana, member B1A4 di panggil dan diberi pengarahan. Hana hanya melihatnya dari jauh lalu dimulailah pemotretan majalah xxx. Dan sesuai kata kata Hana, mereka semua puas dengan hasil potret Hana. Benar benar membanggakan.
“Kurasa, aku mulai tertarik dengannya.” Gumam Hana.

***

Pagi ini rasanya Hana tidak mau bangun. Rasanya lelah sekali. Tapi tetap saja, berkali kali ia memaksa untuk tidur, tapi tidak bisa. Akhir akhir ini terlalu banyak pikiran dan pekerjaan untuknya. Ditambah lagi diharuskan untuk sekolah. Tapi setelah ia pikir lebih jauh, tenyata menyenangkan juga. Kenapa? Karena ia sekelas dengan Sandeul. Bahkan kerja pun bersama Sandeul juga. Entah mimpi apa ia, tapi ini serasa sangat menyenangkan. Eh tunggu dulu, pikiran macam apa tadi?!
pip pip pip pip
Bunyi ponsel Hana berdering. Rasanya malas untuk mengambil ponsel diatas laci kecil dan sangat malas untuk mengangkat teleponnya. Tapi akhirnya ia angkat juga.
"Halo?"
"Ini aku. Ayo cepat bangun."
Mata Hana terbuka lebar. Ia tidak sadar kalau ia ditelepon oleh....Sandeul? Pantas saja rasanya ia sering mendengar suara ini. "Oh? Ada apa?"
"Mau kah kau menemaniku hari ini?"
"Hari ini? Sekarang? Tapi ini hari Minggu!"
"Ya, sekarang. Aku mau cepat cepat."
Hana melihat jam. Masih jam 09.00. Masih lumayan pagi untuk seseorang yang pemalas. "Jam berapa?"
"Sekarang juga."
"Hah? Memang untuk apa aku ikut denganmu?!"
"Aku ingin membeli hadiah Valentine untuk fansku nanti."
Hana kembali melihat kalender. Ya, ia tau, sekarang sudah tanggal 12. Makanya ia mau buru buru. "Ok, ok. Nanti kutelepon lagi. Aku mau siap siap dulu."
"Jangan lama lama, karena aku sudah menunggu di depan rumahmu sedaritadi. Bahkan daritadi aku sudah meneleponmu."
Mata Hana terbelalak. Ia lalu melihat ke jendela lalu melihat kearah bawah. Ia melihat seseorang berambut coklat agak berantakan seleher sedang melambaikan tangannya kearah Hana lalu tersenyum. "Ok, ok. Karena kau mendesakku, aku akan siap siap. Beri aku 15 menit."
"10 menit."
"Ok ok, 10 menit!!"

Di jalan, ia terus terusan menguap. Ini masih terlalu pagi. Jaket tebal menyelimuti badannya. Minggu ini Minggu yang sangat dingin. Sekalinya ia berbicara, keluarlah embun dari mulutnya.
"Kau telat 5 menit." Seserorang membuka pembicaraan. Ia melihat orang yang mengajaknya berbicara.
“Lee Jung Hwan! Sudah kubilang kan? Aku butuh 15 menit untuk bersiap siap!" Ucapnya jengkel. Tapi ia melihat seseorang disana tertawa kecil.
"Maaf, aku sedang terburu buru. Sehabis ini aku mau show di KBS." Ucap si pembuka pembicaraan; Lee Sandeul.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak mengajak Baro atau Channie atau oppa oppa yang lain?" Ucapnya jengkel; Hana.
Sandeul menggernyit. "Mereka semua bukan para wanita. Fansku banyak wanitanya. Jadi, aku tak tau selera para wanita."
Hana menggeleng, lalu memiringkan kepalanya. "Kau tau? Aku bingung selera orang loh. Kalau seleraku sendiri sih aku tau."
Sandeul tertawa lebar. "Nah, kita sudah sampai!"
Hana melihat keadaan dari dalam jendela mobil. Sepertinya toko yang asesorisnya dengan harga mahal. Ia melihat Sandeul yang sudah keluar dari mobil lalu menyuruh Hana keluar juga. Hana pun bergegas keluar dan melihat Sandeul memakai kacamata hitam.
"Kenapa kau memakai kacamata hitam? Kau seperti kakek kakek buta, kau tau?" Tanya Hana polos.
Sandeul berdeham lalu menjawab, "Kau mau terkena gosip gosip yang tidak mengenakkan hatimu? Aku juga tidak terbiasa dengan memakai kacamata hitam seperti ini. Yah, walaupun aku kenal betul pemilik toko ini, tapi aku tidak ingin merepotkan dirimu."
Hana terdiam. Lalu berjalan mengekori Sandeul.
"Kau tau kenapa aku mengajakmu?" Sandeul memulai pembicaraan setelah beberapa menit saling diam. Lalu melanjutkan sendiri tanpa menunggu jawaban. "Karena aku percaya denganmu. Kamu tidak bawel, walaupun aku tak tau, sebenarnya kamu seperti apa. Tapi aku yakin, kamu ini orang yang baik."
Hana diam sejenak. Mencerna setiap kata kata yang diucapkan Sandeul. setelah ia menemukan arti dari kata kata yang kurang dimengertinya tadi, mukanya sedikit memerah; walau ia tau ia sangat amat telat. lalu perlahan ia menghela napasnya.
"Aku tidak suka orang yang suka menggombal." Jawab Hana tegas dan singkat.
"Tapi aku sedang tidak menggombal." Jawab Sandeul lebih singkat lagi.
Hana terdiam. Daripada ia meneruskan perdebatan lalu ia ditinggal dijalan yang ia belum ketahui ini, lebih baik dia diam.
"Menurutmu, bagusnya beri kado apa ya untuk fans?" Ucap Sandeul kebingungan melihat asesoris wanita yang terlalu banyak. Tanpa sadar, mereka ternyata sudah di dalam toko asesoris itu.
"Hnn bagaimana kalau...gelang? Atau kalung?" Tanya Hana. Tapi kalau dipikir pikir, dia kurang suka memakai gelang ataupun kalung. Lalu Hana melihat boneka. Sebuah boneka beruang kecil berwarna coklat. Matanya berbinar ketika melihat boneka itu. Dan tanpa sadar, sedaritadi ada yang memerhatikannya.
"Kau mau itu?" Sontak Hana kaget mendengar suara lelaki yang ia kenal itu seraya menepuk bahunya.
"A--ah! Tidak. Jangan membuatku kaget begitu dong." Ucap Hana terbata bata.
Sandeul tertawa kecil lalu berkata, "Aku melihat gerak gerikmu loh. Matamu berbinar binar seperti anak kecil minta mainan."
Hana terdiam lagi. Ia seperti sudah bisa membaca pikiran Hana. Lalu perlahan menghela napasnya.
"Aku serius. Kalau kau mau, akan kubelikan."
Itu adalah ucapan serius yang baru pertama kali Hana dengar. Mukanya kembali memerah. Tapi kini dihadapan Sandeul. Betapa malunya Hana. Tapi ia tetap menolaknya. Ia sadar karena ia bukan siapa siapa Sandeul. Baru dua bulan ia kenal dengan Sandeul, ia masih tak enak hati. Apalagi dia adalah lelaki. Kalau sesama wanita sih tak apa, tapi ini bersama laki laki yabg baru ia kenal. Ia masih belum tau sifatnya seperti apa. Bahkan ia juga bertemu dengan Sandeul saat sekolah saja –-tapi terkadang saat ia kerja--. Dan jujur saja, Hana belum pernah memberitahu rumahnya ke Sandeul. Maka dari itu, ia benar benar kaget ketika Sandeul berada di depan rumahnya. Jangan jangan dia stalker.
"Hnnn kupikir, syal ini bagus untuk fansku. Menurutmu bagaimana?" Tanya Sandeul ke Hana. Tapi Hana tetap terdiam. Berkali kali Sandeul memanggil Hana dan menggoncangkan tubuhnya, Hana tetap masih bersenang senang dengan lamunannya. Lalu Hana dikagetkan dengan suara handphone seseorang. Ia menoleh, ternyata itu ponsel Sandeul. Ia sedikit mendengar pembicaraan Sandeul dan sang penelepon. Lalu ia menutup teleponnya setelah beberapa menit kemudian.
"Hana-ya, sekarang jam berapa?" Tanya Sandeul dengan aura bingung. Seperti ada yang ia pikirkan.
"Sekarang? 10.45." Jawab Hana singkat.
"Aku show jam 11.55!! Kita mesti cepat mencari hadiah untuk fans!"
"Bagaimana kalau...syal ini saja?"
"Yah, kupikir begitu. Tapi sewaktu kutanya tadi, kau malahan terdiam dan asik dengan lamunanmu."
"Gomawo, Sandeullie. Aku suka dengan motif kotak kotak merah ini."
"Baiklah, aku akan membeli syal motif kotak merah ini. Kau kembali ke mobil duluan saja, aku akan membayar beberapa syal ini dahulu."
Dengan cepat, Hana bergegas ke mobil Sandeul. Ia benar benar pusing dengan omongan Sandeul. Semakin ingin dilupakan, ia malahan semakin ingat. Ia berdeham lalu menarik napas panjang. Rasanya dadanya juga berdegup kencang selain wajahnya memerah. Baru saja ia memikirkan itu, Sandeul sudah kembali dengan beberapa kantong belanjaan. Tapi hatinya diganjalkan dengan tas jinjing kecil itu. Dia sangat penasaran itu apa.

***

'Ingat ya, tanggal 14 Februari. Datang ke cafe yang pernah kuberitahu waktu itu. Jam 7 malam. Jangan lupa. Kutunggu!'
Rasanya sudah berkali kali ia membaca pesan singkat itu. Ia bingung, apakah ia harus datang ke acara yang bukan ia suka atau tidak. Maksudnya begini, Hana bukanlah seorang BANA, tapi ia diharapkan untuk datang. Ia bingung juga, disana harus menakai baju apa. Yah berkali kali ia terus membaca pesan singkat itu dan tanpa sadar, sekarang sudah jam 06.00 sore.

Disini sepi dengan orang orang. Yah lebih tepatnya orang orang belum banyak yang datang. Para member B1A4 juga masih bersiap siap. Dan entah kenapa ia sudah datang. Padahal tadi di rumahnya masih jam 6 sore. Tapi kenapa sekarang juga masih jam 6 sore? Sepertinya jam dirumahnya sudah mulai mulai rusak. Ia melihat sekeliling, belum banyak orang yang datang. Ia datang bersama kakaknya, Ai. Ai juga diundang ke acara ini ternyata.
"Ai-senpai, kenapa kau ikut denganku?"
"Aku? Aku diundang Jinyoung. Memangnya tidak boleh? Lagipula aku big fans dari B1A4! Kyaaw kyaaw!!" Melihat kakaknya yang fangirling dari rumah membuat Hana muak. Dia berisik sekali. Hana hanya ingin bertemu Sandeul, itu saja. Hana juga bukan fans dari B1A4. Lebih tepatnya, setelah Sandeul memberi album dari B1A4 dan diberikan ke kakaknya, kakaknya jadi semakin gila dengan Korea. Ia sangat kaget ketika melihat kakaknya begitu senang Hana mendapat album B1A4 secara cuma cuma. Yah ia hanya memaklumi saja lah.
Jam sudah menunjukkan ke arah 7. Ruangan sudah mulai penuh dengan kerumunan orang. Semuanya adalah fans dari B1A4. Hana hanya terdiam melihat mereka semua meneriakkan B1A4, ada juga yang membawa spanduk bertuliskan B1A4 dan bahkan ada yg menangis histeris.

Di acara itu, para member B1A4 menyanyikan lagu mereka dengan bahagianya. Dan terkadang Hana melihat ada yang memberikan setangkai bunga ke membernya. Mereka semua sangat senang ketika para member menerimanya dengan senang hati.
"Kali ini aku akan menyanyikan sebuah lagu kami. Dan ini spesial untuk seseorang yang telah mau datang kemari. Lagu ini sangat cocok untuknya. Dan aku suka lagu ini. Gamsahabnida." Ucap sandeul dari panggung lalu tersenyum sumringah. Ia lalu mendekati classic piano itu dan mencoba coba melodi. Lalu memainkan musik dan bernyanyi sendirian tanpa ditemani yang lain.
My only hope it is you
Naye soneul jabajwo
I will love you forever
Naye mameul badajwo.
Wonhae neoye mam
Ttok gateun mam gateun mal loving you
Sejenak Hana membeku dengan alunan melodi yang dimainkan Sandeul. Ia tak bisa berkata kata lagi, suara Sandeul sangatlah bagus. Satu demi satu ia maknai kata kata dari lagu tersebut. Sangatlah romantis. Hana meleleh dengan irama musik dan nada suaranya. Tak terasa air mata Hana mengalir. Ia sangat suka permainan Sandeul. Setelah lagunya selesai, mereka bertepuk tangan dengan gembiranya.
"Suaramu sangat merdu, Sandeullie-ya!"

Saatnya memberikan hadiah ke sepuluh fans yang beruntung! Semua member telah membawa hadiahnya masing masing. Baro dengan topinya, Jinyoung dengan pajangan lucunya, Shinwoo dengan kacamatanya, Gongchan dengan gantungan kuncinya dan Sandeul dengan syal yang telah direkomendasikan Hana. Satu satu mereka melemparkan bola untuk pacuan siapa yang mendapatkan hadiah dari para idola mereka. Satu per satu mereka mendapatkan bolanya dan langsung naik keatas panggung. Tak lama setelah itu, Hana dan kakaknya; Ai menerima telepon. Ai sontak bergegas pulang tetapi Hana tidak. Ia ingin membicarakan sesuatu dahulu ke Sandeul. Ia mengirim pesan singkat terlebih dahulu untuk memudahkannya bertemu dengannya.
'Sandeullie, aku menunggumu di belakang gedung ini. Ada yang mau kubicarakan.'

"Hana-ya, kau dimana?" Tanya seseorang sambil menoleh kanan dan kiri mencari seseorang.
"Aku disini. Aku sudah menunggumu sedaritadi." Ucapnya dengan muka yang sedikit sedih. Ia menghela napas panjang kemudian dikeluarkan dari hidung.
"Ada apa Hana?" Tanya orang itu, Lee Sandeul.
"Aku....hanya...ingin..err"
"Apa?"
"Aku suka kamu!"
Mata Sandeul terbuka lebar selebar yang ia bisa. Ia rasanya seperti tidak percaya dengan pernyataan itu. Kalau dipikir pikir, Sandeul juga agak suka dengannya, tapi ia tidak menyadarinya. Pasalnya, dia sekarang lebih sering jalan dengan wanita ini. tapi.....
"Maaf."
DEG. Jantung Hana serasa mau copot ketika ia mendengar kata itu. Ia tidak mau mendengarkan lanjutannya lagi. Ia sudah tau. Ia akan ditolak! Tapi pada kenyataannya, ia memang sudah siap kalau ia akan ditolak mentah mentah. Yah ia tau, Sandeul adalah artis terkenal. Ia tak mungkin suka pada orang yang biasa biasa saja; seperti Hana. Hana kembali mengontrol dirinya lalu menghela napasnya perlahan.
"Maaf Hana. Tapi.....aku sudah punya pacar." Lanjut Sandeul dengan nada kecewa. Mata Hana terbelalak. Bahkan Hana pun tak tau ia sudah mempunyai pacar. Rasanya malu sekali. Rasanya memang keputusan ini agak cepat. Tapi mau apalagi? Ia akan pergi jauh setelah ini.
"Maaf ya. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku saja. Selamat tinggal." Ucap Hana seraya berjalan meninggalkan Sandeul. Dijalan, rasanya Hana tak kuasa menahan tangis yang dibendungnya sedari tadi. Rasanya jantungnya itu seperti diremuk remukkan. Rasanya sangat sakit...

***

"Hari hari berlalu dan ia juga tak datang lagi. Apa maksudnya kata kata selamat tinggal itu?" Gumam sandeul di kelas. Beberapa menit setelah ia bergumam, guru masuk dengan membawa anak yang ia sepertinya kenal. Ia mengerutkan keningnya. "Park Dae Yoora?!"
Sontak anak anak yang lainnya kaget mendengar teriakan Sandeul lalu berbisik bisik. Hampir Sandeul mendengar kata kata, 'Oh, jadi itu pacarnya Sandeul yang belum diketahui wajahnya itu?!'
"Kenapa kau...kemari?!" Tanya Sandeul setengah emosi. Orang yang bernama Park Dae Yoora itu menghampiri tempat duduk Sandeul lalu duduk disampingnya. "Hei, jawab pertanyaanku! Lagipula, ini adalah tempat Hana! Hana Fujita!!" Bentak Sandeul. Ia tak sadar kalau yang lainnya telah memerhatikan Yoora dan Sandeul.
"Oh? Jadi orang yang bernama Hana itu yang sedang dekat denganmu? Dasar perempuan tak tau diri. Sudah tau kau itu milikku." Ucap Yoora santai. Tapi Sandeul semakin emosi.
"Kau? Memangnya kau siapa? Kau bukan siapa siapa ku lagi. MULAI SEKARANG!" Bentak Sandeul lalu keluar kelas, ke atap gedung sekolah. Lalu ia melihat disana ada Jinyoung, Shinwoo dan Baro. "Ada apa ini?" Gumamnya.
"Akhirnya kau datang." Ucap Baro cuek. Wajah mereka seperti dirasuki jin yang sangat kejam, wajah mereka jahat sekali.
"Kau tau Sandeul? Aku telah menyukai Hana sejak pertama dia masuk ke sekolah ini. Dan aku sangat kecewa ketika kamu duluan yang mendekatinya. Dan aku amat sangat kecewa ketika Hana menyatakan perasaannya ke kamu tapi kamu menolakknya. Aku kira kamu juga suka dengannya, ternyata tidak. Padahal aku sudah rela kalau kau berpacaran dengannya. Tapi yang membuatku lebih sakit hati lagi adalah, kenapa kau tidak bilang kami kalau kau sudah punya pacar?! Kau telah menyakiti perasaannya Hana! Hana sedang sedih ditambah kau menolaknya membuat Hana tambah sedih! Kau tau? Dia sudah pulang ke Jepang setelah acara kita 14 Februari lalu! Entah kapan dia kembali ke Korea." Ucap Shinwoo panjang lebar.
Mata Sandeul terbelalak. Ia tidak bisa berbicara apa apa lagi. Ia takut salah kata. Dan baru pertama kali ini ia dibentak oleh Shinwoo. "Ke--kenapa? Kenapa ia pergi ke Jepang lagi?"
"Ayahnya meninggal karena kecelakaan beruntun. Jadi ia harus cepat cepat pulang ke Jepang. Tapi, mungkin ia akan pulang bulan Mei. Ia harus mengurus administrasi lalu harus mengurus rumahnya disana.” Ucap Jinyoung menjelaskan. Sandeul masih benar benar belum percaya.
“Kami kecewa denganmu, Lee Jung Hwan.” DEG!! Rasanya jantung Sandeul benar benar copot saat mendengar kata kata itu dari 3 orang yang ia percaya. Ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Tak kuasa ia menahan tangis lalu minta maaf berkali kali kepada 3 orang itu.
“Kalau kau mau minta maaf, minta maaflah ke Hana.” Ucap Shinwoo sedikit membela Sandeul. Lalu Sandeul mengangguk.
“Omong omong, Hyung tau dari mana kalau Hana pulangnya bulan Mei?” Tanya Sandeul ke Jinyoung.
Jinyoung tersenyum lebar lalu mengatakan, “Seseorang yang special disana telah memberitahuku.”
Sandeul kebingungan tapi ia diam saja. Lalu ia memikirkan caranya supaya ia bisa meminta maaf ke Hana.

***

18 Maret, Tokyo; Jepang.
Otou-san, kapan kita kembali ke Korea?” Tanya Hana ke ibunya. Ibunya hanya berdeham lalu menggelengkan kepalanya. “Aku ingin melanjutkan sekolah disana.” Lanjutnya.
Otau-san tidak tau. Tapi sepertinya akhir akhir ini kita bisa kembali kesana.” Ucap Ibunya sedikit ragu.
“Hana-chan! Hana-chan! Kita bisa kembali tanggal 20 Maret!” Teriak Kakaknya; Ai dari dapur. Wajahnya sangat berseri-seri dan Hana mencurigakan sesuatu. “Aku serius! Otou-san, kita kembali tanggal 20 Maret!” Lanjutnya, berbicara ke ibunya.
“Kalau begitu, kita mesti siap siap.” Ucap Ibunya.

20 Maret, Bandara Narita, Jepang.
“Kalian sudah siap? Pesawat akan take off jam 10 pagi ini.” Ucap ibu Hana ke anak anaknya. Hana dan Ai mengangguk.
“Tapi sekarang masih jam 7, Otou-san. Masih 3 jam lagi.” Protes Hana. Ia tak mau lumutan menunggu pesawat yang akan terbang jam 10 pagi itu. “Aku akan berjalan jalan sebentar mencari oleh oleh untuk teman sekelasku.” Lanjutnya.
“Aku ikut! Bagaimana kalau kita ke Sakura-no-Yama Hill? Disana ada tempat yang bagus loh! Banyak sakura disana!” Ucap kakaknya berseri seri.
Hana memiringkan kepalanya lalu bertanya, “Kenapa harus disana? Bukannya banyak taman yang lain?”
“Hana-chan, itu taman terdekat dari Bandara Narita. Kita hanya punya 3 jam untuk santai santai.” Setelah Hana piker piker, benar juga kata kakaknya. Setelah itu, ia langsung masuk ke mobil. Dan kalian tau? Yang menyetir mobil adalah Hana. Ai –kakaknya— sontak kaget ketika Hana bilang ia bisa menyetir mobil dan benar benar ingin menyetir mobilnya. Ini dikarenakan, untuk sampai ke Sakura-no-Yama Hill tidak ada bus yang lewat. Hanya mobil pribadilah yang bisa sampai kesana.

Saat sampai disana, pemandangannya benar benar indah. Baru pertama kali Hana kesini, tapi kakaknya sudah beberapa kali kesini. Maka dari itu, kakaknya tau jalan menuju kesini.
“Udaranya sangat segar!! Tapi, pohon sakuranya masih gundul karena musim dingin lalu.” Ucap Hana. Matanya sangat berbinar binar dengan pemandangan disana. Sontak saja ia mengeluarkan kameranya dan langsung memotret keadaan disana.
Tapi dari kejauhan, ia seperti melihat sesosok orang yang pernah ia lihat. Ia menyipitkan matanya, tapi masih belum kelihatan juga. Samar samar sesosok laki laki itu membawa bunga dan kotak kado kecil berwarna pink. Ia menyipitkan matanya lagi lalu matanya terbelalak. “LEE SANDEUL?!”
Dari kejauhan, ia melihat sesosok lelaki yang Hana duga adalah Sandeul tertawa tawa kecil. Hana semakin dibuatnya bingung. Tapi Hana menghiraukannya, mungkin dia salah lihat. Mana mungkin disini ada dia. Tidak mungkin.
Tapi sosok lelaki itu semakin lama semakin dekat dan semakin jelas. Lalu, sesosok lelaki tadi memeluk hangat tubuh Hana dan ia terdiam dan masih terbelalak.
“Kau benar, Hana Fujita. Ini aku, Lee Jung Hwan.” Ucap lelaki itu dan masih memeluk tubuh Hana; bahkan sangat erat. “Maafkan aku. Aku telah egois. Aku tak memikirkan perasaanmu. Maaf, maaf.” Lanjut Sandeul, meyakinkan Hana bahwa ia tidak sedang bercanda.
“Ta—tapi, kenapa bisa kesini? Kenapa kau tau aku ada disini?” Tanya Hana dalam kebingungan yang menyelimutinya.
Sandeul tersenyum ramah lalu melanjutkan, “Soal itu, kakakmu lah yang memberitahuku. Kau tau? Selama kau di Jepang, aku tau kabarmu dari Jinyoung-Hyung. Dan Hyung tau dari kakakmu. Maka dari itu, aku sedikit lega. Sebetulnya aku sangatlah cemas.” Sandeul terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Ini untukmu. Cocok sekali kan dengan namamu? Hana dalam Bahasa Jepang artinya bunga, bukan?” Ia memberikan bunga mawar merah dan kotak kado kecil yang berwarna pink tadi.
“Apa ini?”
“Kau akan segera tau kalau kau membukanya.”
Perlahan Hana membuka bungkusan berwarna pink itu dan matanya terbuka lebar. “I—ini? Beruang kecil yang sewaktu itu aku inginkan? Sewaktu Valentine? Kenapa kau membelikannya untukku?” Tanya Hana. Ia masih benar benar tidak mengerti apa maksud semua ini.
“Sewaktu itu memang aku sengaja membelikannya untukmu. Dan aku ingin menyerahkan ini saat Valentine. Tapi aku takut dan mengurungkan diriku untuk member ini.”
“Lalu, pacarmu?”
“Aku sudah putus dengannya jadi ….” Sandeul menghela napas perlahan lalu melanjutkan. “Would you be my girlfriend?
Mata Hana kembali membesar, wajahnya memerah dan ia membuat senyuman manis yang baru kali ini Sandeul lihat. Hana memeluk erat Sandeul, “Of course, because I love you!” Ia melepas pelukan Sandeul, membuat bingung Sandeul sesaat. Dan sesaat ia membuat semuanya terkaget, Hana mencium pipi Sandeul lalu kembali memeluknya. “Anggap saja ciuman tadi adalah hadiah.” Hana tersenyum sangat manis.
“Selamat ulang tahun, Sandeullie!”

**tamat**

♫ Thanks for Reading, da. Ctrl + C = COPY! ♫

3 Spam(s) on "Only Learned The Bad Things"

ゲビ - on 11 Februari 2012 10.46 mengatakan...

Waii B1A4! ^^

Kallen ( • ̀ω•́ )✧ on 11 Februari 2012 11.58 mengatakan...

@ゲビ - yup! ^^

ゲビ - on 12 Februari 2012 12.09 mengatakan...

>_< !!!

Posting Komentar

Rules :
✱ Menggunakan bahasa yang baik, jelas dan benar
✱ Tidak spam
✱ Tidak menyinggung perasaan author maupun orang lain

Regards,
Kallen Beilschmidt ♫

 
H o m e S t u f f s K a l l e n T o m o d a c h i T h a n k s T o F o l l o w +
K a l l e n B e i l s c h m i d t Ⓒ 2 0 1 6